Tentu kita pernah melihat orang sholat di masjid sangat khusu’ sehingga kita menikmati rasa sholat. Hal ini adalah merupakan ibadah wajib kepada seluruh umat islam sebagai bentuk ketaatan manusia kepada tuhannya. Ke khusu’ an tersebut juga merupakan Khidmah kepada tuhan yang maha esa yaitu Allah swt.
Dalam ibadah ada dua yaitu ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Ibadah vertikal dan horizontal. Dalam islam ibadah adalah merupakan bentuk aktifitas peribadatan kepada Allah bisa dalam bentuk perbuatan, ucapan dan ketetapan. Segala aktifitas harus diniatkan karena Allah swt. Tetapi, menjadi persolan mendasar wilayah ibadah vertikal di campur aduk dengan horizontal sehingga kita terkadang tidak memiliki pakem dalam ilmu pengetahuan.
Kata “Alim” salah satu kata yang menjadikan problem secara sosiolog dan atropolog. “Alim” biasanya di konotasikan kepada seseorang yang jauh dari kemaksitan atau kegelapan. Sinonim dari “Alim” adalah “tidak Alim” artinya bahwa “Alim” itu karakter baik dan “tidak alim” adalah karakter buruk. Tetapi, hal menjadi titik tekan adalah “Alim” menjadi pagar bersosial terhadap sesama. Sehingga berakibat kelas-kelas dalam kehidupan bersosial.
Persoalan pagar sosial terjadi salah satunya adalah terdapat kelas “Alim dan tidak Alim” sehingga terjadi kesenjangan sosial yang berakibat kesombongan dan merendahkan secara moral dan akhlak. Seharusnya semakin orang itu “Alim” muda bergaul dengan siapapun, sebab “Alim” itu adalah orang memiliki ilmu dengan ilmu itu mereka mudah mendekati siapapun tanpa terkecuali. Dalam hal ini tidak akan terjadi kesenjangan sosial. Apalagi jika di sistem sosial atau lembaga sosial tentu konteksnya bukan lagi siapa yang alim. Tetapi, siapa yang suka bergaul tanpa memandang kelas dan latar belakang akhlak. Insyaallah sistem organisasi tersebut akan secara efektif. Karena memiliki kecerdasan “interkonektif atau kecerdasan komunal” dengan hal itu, kecerdasan sosial adalah bentuk kesuksesan dalam kehidupan.
Banyak orang ingin menjadi “Alim” tanpa melihat efek antropologi dan sosialogi. Kebanyakan masyarakat “Alim” di efekan kepada kebahagiaan individual seperti masuk surga dan harapan dinaikan derajat lebih tinggi. Sehingga dalam kata “Alim” memiliki sifat individual dalam memperoleh kebahagiaan. Seharusnya, kita berfikir sosial, bahwa “Alim” adalah berefek menjadi pribadi yang mudah bergaul dan akibat dari “Alim” kita dan teman kita menjadi dekat kepada surga. Karena kebaikan seseorang bisa menaburkan kebaikan di sekeliling kita. Dengan cara menjadikan konsep “Alim” sebagai prinsip untuk bergaul di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat dapat menikmati kebaikan dalam diri kita yang berimplementasi mau menolong, menyapa, dan bersilaturahmi tanpa melihat golongan karakter ataupun sikap dari setiap seseorang.