Penyesalan

Entah kenapa semenjak di PTQ saya merasa kurang di hargai ketika usia 25 tahun. Jarang komunikasi sama ustdzah ptq merasa saya bukan siapa-siapa dan terkadang merasa menyalahkan diriku sendiri kenapa qw di sini mungkin ketika tdk disini saya tdk mengalami hal gini. Dulu disaat awal disini saya sangat senang ingin ada perubahan di pesantren ptq. Tetapi, semenjak disini banyak sekali problem.

Lingkungan perempuan membuat ada regulasi dan aturan yg belum menikah jangan ikut campur adanya perkembangan ptq. Merasa di ptq bukan siapa dan apalagi saya belum menikah. Jadi cuma penyuruh orang. Dari sini qw belajar perempuan alim tidak selamanya baik bagiku dan tidak semua pr buruk itu buruk bagiku. Begitupun lembaga baik tidak selamanya baik bagiku dan lembaga buruk tidak selamanya buruk bagiku.

Teman dan kecewa

Dari sini saya belajar banyak hal terkait pertemanan. Terkadang apa yang kita ingin perhatikan tidak semua orang memang betul memperhatikan bahkan ada kemungkinan kita akan dibenci atau tidak di hargai. Mungkin itu karena sikapku atau karena yang lain.

Dari sini juga saya belajar untuk siap menjadi diri sendiri dan siap untuk dibenci. Terkadang juga muka senyum dan baik tidak semua benar-benar akan menyukai dan baik kepada diri kita. Bahkan, ada kemungkinan ia menjadi buruk sebab tindakan kita. Entah apa penyebab dari keburukan ku sendiri. Tetapi, itu akan menjadi sejarah dan catatan ku di esok hari.

Sulit memang memang menjadi orang yang baik dan dicintai oleh banyak orang bahkan cita-cita seperti itu tidak akan kita gapai secara sempurna. Ya mungkin, karena hukum alam ada yg membenci atau mencintai. Tetapi, bagiku suatu yang sulit yaitu di benci didalam pekerjaan oleh teman. Sebab setiap hari kita ketemu Dengan wajah yang baik dan kita tidak tau apakah wajah tersebut benar-benar baik untuk kita.

Mungkin, solusi dan alternatif kita acuh dengan semua karakter yg dimiliki. Tetapi, itu yang membuat aku mantab untuk meninggalkan tempat pekerjaan yg penuh dengan kenangan dan cerita. Saya kira untuk menjadi pribadi diri sendiri tanpa menjadi followers adalah hal sulit. Dengan itu mungkin saya menjadi lebih mantab untuk menjadi diri sendiri.

Mungkin, kita sendiri tidak harus terlaku baik dan buruk untuk orang di sekeliling kita karena kita tidak tau karakter apa yg dimiliki sehingga menjadi kita Kecewa dan mungkin kita seharusnya fokus untuk diri kita sendiri tanpa memikirkan banyak diluar diri kita sendiri. Bahkan kita seharusnya menjadi seseorang tanpa mengikuti atau mengagumi mereka. Mungkin itu solusi sementara. Untuk persoalan ini.

Oh ya, aku kira kita juga harus menjadi pribadi yg tidak memikirkan apa yg kita fikirkan terutama adalah persoalan teman. Kita bisa memikirkan persoalan yg biasa tapi tidak terlalu menjadi dalam. Jika orang sakit kita jenguk yang dijenguk adalah hakekat atau niatnya bukan jenguk tenan tetapi, niat yg lain tanpa ada urusan pertemanan. Mungkin bisa niat agar Allah menghapus dosa kita atau yang lain sebagainya. Karena jika niat karena teman terkadang ada kecewanya jika ia buruk kepada kita.

Santri dan kenakalan

Terkadang kita mengeluh apa yang dilakukan oleh santri. Keluhan ini mungkin terjadi bagi orang tua dan pengurus santri. Santri di keluhkan karena penyakit mental yang kurangnya semangat dalam belajar dan beribadah. Maka dengan itu ada beberapa pandangan yang kami tawarkan untuk mendeteksi penyakit mental tersebut.

Sebelum kami menawarkan cara pandang problem mental, maka yang perlu diketahui adalah apakah santri tersebut telah Melakukan kriminalitas? Ada ilmu untuk mengidentifikasi terhadap kriminal yang terjadi bagi santri. Salah satu ilmu tersebut yaitu kriminologi. Jika santri tidak melakukan kriminalitas maka kita bisa masuk kepada pelacakan problem mental.

Dalam problem tersebut kita bisa gunakan 3 hal antara lain: motivasi, pengaruh dan problem. Motivasi Seorang santri menjadi malas karena kurang nya motivasi secara internal dan eksternal. Pengaruh karakter bisa menjadi buruh karena pengaruh yang diluar, maka dari itu pengurus seharusnya memberi pengaruh dengan tindakan sehingga mental/tindakan akan spontanitas. Problem salah satu menjadikan mental lemah dari situ untuk mengetahui problem tersebut.

Mungkin dari situ maka kenali problem tersebut.

Antara Syawal dan materialis

Syawal adalah peningkatan amal dan perbuatan selama ramadhan. Taqwa merupakan ruh dari Syawal. Karena hasil dari puasa ramadhan adalah taqwa. Seharusnya seseorang setelah menjalani ramadhan seseorang menjadi lebih meningkat.

Fakta yang kita jalani berbeda jauh dalam apa yang telah dinyatakan dalam Al Qur’an. Apa sebab itu terjadi? Bukankah kita selalu beribadah dan mengetahui bahkan memahami maksud dan tujuan puasa? Ternyata fenomena taqwa dan Syawal bukan hanya lingkaran pemahaman tetapi juga lingkaran kesadaran. Lantas apa penyebab kesadaran itu tidak muncul? Karena kurangnya perenungan. Inilah menjadi problem mendasar. Tidak heran jika selama ini Al Qur’an menyuruh kita itu tafakur terhadap apa yang dilihat dan dialami.

Perenungan akan hilang jika kita masih berpegang terhadap materialis yang kita tanam. Materialis yang kita tanam selama ini menjadikan hilang akan kesadaran Ta’kiluun atau Tafakaruun dari sini bisa di simpulkan kehancuran akal, moral dan peradaban sebabnya materialis yang selama ini kita tanamkan dalam psikologi kita. Dari situlah marilah kita berusaha untuk tidak menjadi manusia materialis.

Fakta ilusi

Terkadang kita melihat suatu hal tanpa pertimbangan matang. Fenomena yang terjadi di sekeliling kita adalah bentuk fakta tetapi, terkadang hanya ilusi. Fakta terjadi saat ini memanipulasi fikiran diantara kita sehingga menjadikan fikiran kita terjebak oleh fakta dari situ pertimbangan dalam fikiran telah tiada.

Kesadaran manusia harus telah terjadi. Dari sedikit fakta yang kita alami menyebabkan kita terombang-ambing dalam fakta dan fenomena. Lantas pantaskah kita menjadi seseorang yang tau akan suatu hal atau merasa mengetahui suatu hal. Bukankah dunia di sekeliling kita adalah tipu daya? Apa yang menyebab kan kita tertipu? Mungkin semua itu menjadi problem dalam hidup yang sedang berlangsung ini.

Perbedaan hukum, peraturan dan Undang-Undang

Sering kita temui istilah hukum, peraturan, dan undang-undang. Tetapi, terkadang kita belum tau makna secara jelas apa yang di maksud dengan hal itu. Secara garis besar Hukum, Peraturan danΒ  Undang-Undang memiliki fungsi yang sama yaitu mengatur. Siapa yang di atur yaitu manusia. Tetapi, hal demikian memiliki diferensial atau pembeda secara struktural.

Hukum adalah aturan yang mengikat dari atas menuju bawah. Lebih jelasnya, hukum di buat oleh lembaga yang berwenag untuk rakyatnyaa yang bersifat mengikat dan memaksa. Menurut john Austin, hukum itu di dalamnya harus memuat perintah, larangan, kewajiban, dan saksi. Sehingga tujuan dari hukum adalah agen of social control. Sehingga masyarakat menjadi lebih tertib dan nyaman.

Peraturan adalah kesepakatan antar sesama yang di buat untuk supaya saling nyaman dan tenang yang sifatnya sementara atau panjang juga bisa mengikat atau tidak. Peraturan ini tidak harus di buat dari atas menuju bawah. Antar sesama bisa membuat aturan seperti dalam permainan tenis meja, permainan-permainan baru yang di sepakati bersama. Sehingga kalau dilihat secara denotatif-nya peraturan lebih luas ketimbang hukum. Artinya, hukum harus ada lembaga tertentu sedangkan peraturan tidak harus ada lembaga tertentu.

Adapun peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang di tetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kalau, di dalam pasal pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No 12 Tahun 2011Β  Undang-Undang adalah peraturan perundang- undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.

Jadi sedikit berbeda mengenai hukum, Peraturan, dan Undang-Undang. Meskipun secara tujuan sama tetapi muatan hirarki agak berbeda. Kemudian, negara indonesia adalah negara hukum jadi segala sosial, administrasi, dan hubungan kelembagaan harus ada hukumnya. Oleh karena itu kita sebagai warga negara harus memilik kesadaran keadilan karena tujuan dari hukum adalah adil. Bagaimana konsep adil? Apakah bisa adil di terapkan di agama dan intraksi sosial? Kapan-kapan aku tuliskan apa itu adil.😊😊

“Alim,Jangan Menjadi Pagar Sosial”

Tentu kita pernah melihat orang sholat di masjid sangat khusu’ sehingga kita menikmati rasa sholat. Hal ini adalah merupakan ibadah wajib kepada seluruh umat islam sebagai bentuk ketaatan manusia kepada tuhannya. Ke khusu’ an tersebut juga merupakan Khidmah kepada tuhan yang maha esa yaitu Allah swt.

Dalam ibadah ada dua yaitu ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Ibadah vertikal dan horizontal. Dalam islam ibadah adalah merupakan bentuk aktifitas peribadatan kepada Allah bisa dalam bentuk perbuatan, ucapan dan ketetapan. Segala aktifitas harus diniatkan karena Allah swt. Tetapi, menjadi persolan mendasar wilayah ibadah vertikal di campur aduk dengan horizontal sehingga kita terkadang tidak memiliki pakem dalam ilmu pengetahuan.

Kata “Alim” salah satu kata yang menjadikan problem secara sosiolog dan atropolog. “Alim” biasanya di konotasikan kepada seseorang yang jauh dari kemaksitan atau kegelapan. Sinonim dari “Alim” adalah “tidak Alim” artinya bahwa “Alim” itu karakter baik dan “tidak alim” adalah karakter buruk. Tetapi, hal menjadi titik tekan adalah “Alim” menjadi pagar bersosial terhadap sesama. Sehingga berakibat kelas-kelas dalam kehidupan bersosial.

Persoalan pagar sosial terjadi salah satunya adalah terdapat kelas “Alim dan tidak Alim” sehingga terjadi kesenjangan sosial yang berakibat kesombongan dan merendahkan secara moral dan akhlak. Seharusnya semakin orang itu “Alim” muda bergaul dengan siapapun, sebab “Alim” itu adalah orang memiliki ilmu dengan ilmu itu mereka mudah mendekati siapapun tanpa terkecuali. Dalam hal ini tidak akan terjadi kesenjangan sosial. Apalagi jika di sistem sosial atau lembaga sosial tentu konteksnya bukan lagi siapa yang alim. Tetapi, siapa yang suka bergaul tanpa memandang kelas dan latar belakang akhlak. Insyaallah sistem organisasi tersebut akan secara efektif. Karena memiliki kecerdasan “interkonektif atau kecerdasan komunal” dengan hal itu, kecerdasan sosial adalah bentuk kesuksesan dalam kehidupan.

Banyak orang ingin menjadi “Alim” tanpa melihat efek antropologi dan sosialogi. Kebanyakan masyarakat “Alim” di efekan kepada kebahagiaan individual seperti masuk surga dan harapan dinaikan derajat lebih tinggi. Sehingga dalam kata “Alim” memiliki sifat individual dalam memperoleh kebahagiaan. Seharusnya, kita berfikir sosial, bahwa “Alim” adalah berefek menjadi pribadi yang mudah bergaul dan akibat dari “Alim” kita dan teman kita menjadi dekat kepada surga. Karena kebaikan seseorang bisa menaburkan kebaikan di sekeliling kita. Dengan cara menjadikan konsep “Alim” sebagai prinsip untuk bergaul di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat dapat menikmati kebaikan dalam diri kita yang berimplementasi mau menolong, menyapa, dan bersilaturahmi tanpa melihat golongan karakter ataupun sikap dari setiap seseorang.

Hukum Alam

Hukum alam adalah hukum yang berlaku universal dan abadi . Hukum Alam muncul di saat manusia tidak memperoleh keadilan secara absolut. (Friedman) hukum Alam terbagi menjadi 2 yaitu hukum alam irasional dan hukum alam rasional. Hukum Alam irasional adalah bahwa hukum yang bersifat universal hanya dapat di peroleh dari Tuhan. Hukum alam rasional adalah hukum yang bersifat rasional hanya dapat di peroleh dari manusia.

Tokoh hukum irasional adalah Thomas Aquinas dkk. Tokoh rasional adalah Imanuel kant.

Kalau di tarik pada zaman sekarang orang beranggapan keadilan itu hanya di capai dengan Agama. Maka kita sebut dengan hukum Alam. Hal ini artinya bahwa keadilan hanya di dapat dalam menjala

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai